Anakku Tidak Perlu Tahu Siapa Ayahnya | Part II

“Cukup bang, kalau abang memang serius, apa abang sanggup dan bisa menikahiku secara sah. Aku tidak minta untuk memakai hajatan yang mewah. Abang cukup nikahi aku dibawah tangan, di penghulu aja. Nikah sirih juga tidak masalah. Apa abang berani ?,” syaratku kepadanya waktu itu.

Anakku Tidak Perlu Tahu Siapa Ayahnya | Part I

Bergegas aku menelpon pacarku, tutt. . . tutt. . tutt. . . terdengar suara dari handphone yang menandakan bahwa tidak ada jawaban. Sampai pada panggilan untuk yang ke 3 kalinya, terdengar suara di handphoneku, “Ngape dek,” Tanpa basa-basi aku segera mengatakan “Aku hamil bang”. “Ya, tenang dek, abang akan tanggung jawab,” sebut Jufri kala itu. Mendapat jawaban seperti itu, aku sedikit merasa tenang dan memutuskan telpon setelah janjian untuk bertemu di hari itu juga.