Profil Rasuna Said, Pahlawan Indonesia yang Pernah Jadi Jurnalis

Artikel kali ini kita akan membahas mengenai profil seorang Pahlawan Nasional Indonesia yakni Rasuna Said.
Kediaman hingga sosok Rasuna Said (Foto: screenshot wikipedia)

ONEKLIKNEWS.COM – Artikel kali ini kita akan membahas mengenai profil seorang Pahlawan Nasional Indonesia yakni Rasuna Said.

Mungkin wanita pemilik gelar adat Rangkayo (mengacu pemilik akhlak mulia dan kaya raya) ini tak sefamiliar pahlawan nasional wanita lainnya seperti Cut Nyak Dien maupun RA Kartini bagi masyarakat Indonesia.

Namun peran wanita kelahiran Maninjau, Kabupaten Agam 14 September 1910 ini dalam perjuangan melawan penjajah mendapat pengakuan dari pemerintah. Bahkan Rasuna Said mendapat gelar Srikandi dan Singa Batina berkat kontribusinya.

Mengutip dari wikipedia, Rasuna Said lahir dari keluarga terpandang berdarah bangsawan Minang dan religious di desanya.

Ia lahir saat terjadi gejolak anti-kolonialisme di Indonesia dan pada abad itu juga muncul konflik agama antar kaum. Sang paman membesarkan Rasuna karena ayahnya sering bepergian untuk berdagang.

Selepas menamatkan sekolah dasar, Rasuna melanjutkan ke Sekolah Putri Diniyah. Pada 1926, ia kembali lagi ke Maninjau karena peristiwa gempa bumi besar di Padang Panjang.

Lalu ia melanjutkan belajar agama di sekolah pimpinan Haji Udin. Ia belajar dari Haji Rachmany, seorang muslim reformis yang terlibat gerakan politik dan agama. Rasuna berhasil menyelesaikan kursus empat tahun hanya dalam 2 tahun.

Pada usia belasan tahun ia sudah mengenal politik dan terjun ke dunia tersebut. Bahkan ia memimpin beberapa organisasi yang kemudian menjadi anggota parlemen. Ia mengabdikan diri untuk mengajari perempuan tentang pendidikan.

Pendidikan selama 2 tahun itu membawanya berpartisipasi dalam gerakan nasionalis. Pengalamannya makin terasah karena sering mendapatkan kesempatan dari Haji Rachmany berpidato.

Karir Politik

Rasuna sempat tertarik pada sikap anti-kolonial dan anti-imperialis. Selain itu juga pernah terlibat dalam politik sayap kiri dan dikeluarkan saat ia mempertanyakan agama dalam partai tersebut.

Pada 1928, Rasuna bergabung dengan Partai Syarikat Islam. Ia memimpin di kantor pimpinan pusat cabang Maninjau. Pada 1929, ia kembali ke Padang Panjang dan menjadi asisten guru di Sekolah Putri Diniyah.

Rasuna Said

Pada usia 19 tahun, ia menikah dengan Duski Samad yang merupakan guru aktif politik di Sekolah Thawalib Sumatera. Pernikahan tersebut sempat mendapat pertentangan dari keluarga.

Namun ia memilih pasangan yang mampu berbagi aspirasi politiknya. Tindakannya menunjukkan kekuatan karakter dan pikirannya yang mandiri. Ia juga menjauh dari tradisi keluarga. Ia lalu melanjutkan mengajar di Sekolah Putri Diniah.

Dipenjara

Singkat cerita, beragam opini muncul dari seorang nasionalis yang menyatakan bahwa peran perempuan dari pantai Barat cenderung tertarik gerakan politik. Bahkan peran perempuan terbilang lebih tajam daripada laki-laki.

Hal tersebut membuat Rasuna mendapatkan reputasi dan berani mengekspresikan ide-ide politiknya. Perannya dalam dunia politik membuat Pemerintah Belanda khawatir.

Pada November 1932, Rasuna lebih terkenal di kalangan masyarakat karena menjadi wanita pertama yang ditangkap dan didakwa Pemerintah Kolonial Belanda. Kolonial menganggap Rasuna menghasut dan menjelek-jelekkan Belanda ke masyarakat. 

Menjadi Jurnalis

Saat terbebas dari penjara pada 1934, ia kembali ke Padang dan belajar selama 4 tahun di Pesantren. Rasuna Said terkenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Melansir dari wikipedia, pada tahun 1935 Rasuna menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah, Raya.

Majalah ini sudah terkenal radikal, bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatra Barat. Namun polisi rahasia Belanda (PID) mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan.

Sedangkan tokoh-tokoh PERMI yang diharapkan berdiri melawan tindakan kolonial ini, justru tidak bisa berbuat apapun. Rasuna sangat kecewa. Ia pun memilih pindah ke Medan, Sumatra Utara.

Pada tahun 1937, di Medan, Rasuna mendirikan perguruan putri. Untuk menyebar-luaskan gagasan-gagasannya, ia membuat koran mingguan bernama Menara Poeteri. Slogan koran ini mirip dengan slogan Bung Karno, “Ini dadaku, mana dadamu”.

Koran ini banyak berbicara soal perempuan. Meski begitu, sasaran pokoknya adalah memasukkan kesadaran pergerakan, yaitu antikolonialisme, di tengah-tengah kaum perempuan.

Rasuna Said mengasuh rubrik “Pojok”. Ia sering menggunakan nama samaran: Seliguri, yang konon kabarnya merupakan nama sebuah bunga. Tulisan-tulisan Rasuna dikenal tajam, kupasannya mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang antikolonial.

Pada 1942, ia bergabung dengan Pemuda Nippon Raya yang didirikan oleh Chatib Sulaiman yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia. Jepang curiga dengan organisasi ini dan menangkap Rasuna, kali ini ia berhasil bebas. Rasuna menjadi wanita kesembilan yang mendapat anugrah Pahlawan Nasional pada 13 Desember 1974.

Itulah sedikit profil dari Rasuna Said yang merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia.


Sumber: berbagai sumber

Kuy, kepoin berita update lainnya dari media Onekliknews.com dengan join ke Grup Telegram “Onekliknews.com Update”. Klik link ini jika ingin bergabung https://t.me/onekliknews, Eeits tapi sebelumnya pastikan ponsel kamu sudah ada Aplikasi Telegram yaa.

Jangan lupa juga untuk Like Fanfage Facebook, Follow Instagram dan Subscribe channel Youtube One Klik News. Klik tulisan Biru Yaa gaes. . .

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.