oleh

Tiga Tahun Buron, Koruptor Proyek Gedung Dispenda Belitung Ditangkap

BELITUNG, ONEKLIKNEWS.COM – Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejagung RI berhasil menangkap buronan terpidana kasus tipikor pembangunan rehab gedung Dispenda Kabupaten Belitung tahun 2015, Selasa (28/9/2021) lalu.

Terpidana yakni Mohammad Fajar Fitria berada di kediamannya di Pulo Gerbang Permai Blok C.4 No 24 RT 11/09, Jakarta Timur. Sebelumnya pria yang menjabat sebagai Kepala Cabang PT Delima Agung Utama ini sempat menjadi buron selama kurang lebih tiga tahun.

Dalam kasus ini Mohammad Fajar Fitria berstatus sebagai tersangka bersama Adi Ismono yang saat itu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengerjaan proyek rehab gedung Dispenda Kabupaten Belitung.

“Penangkapan terhadap terpidana Mohammad Fajar Fitria merupakan buah kerja keras dari Tim Tabur Kejagung RI,” kata Kasi Intelijen Kejari Belitung MT Roby Anggoro kepada OneKlikNews.com, Kamis (30/9/2021).

Ia mengatakan, Mohammad Fajar Fitria merupakan terpidana korupsi kegiatan pembangunan gedung kantor Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Belitung Tahun Anggaran 2015 sebesar Rp 7,5 miliar lebih dengan masa pengerjaan selama 180 hari.

Namun, menjelang berakhirnya masa kontrak PT Delima Agung Utama tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sehingga PPK melakukan pemutusan kontrak dengan progres pekerjaan mencapai 40,28 persen atau sebesar Rp 2.895.875.000.

Selanjutnya dalam penghitungan ada ketidaksesuaian dengan pekerjaan proyek tersebut, sehingga mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 179.957.409,39.

Banding

Kemudian, lanjut MT Roby Anggoro, Mohammad Fajar Fitria ditetapkan sebagai tersangka dan JPU menuntut terdakwa selama 2,5 tahun. Selain itu juga denda Rp 50 juta subsidair 3 bulan dan wajib membayar uang pengganti sebesar 19 juta lebih.

Namun terpidana menerima vonis selama 1,5 tahun dan denda Rp 50 juta oleh PN Pangkalpinang pada 8 Februari 2018 lalu. Selanjutnya, jaksa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Babel. Tapi justru PT Bangka Belitung mengurangi hukuman terpidana selama satu tahun.

Kemudian, Jaksa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Meskipun Mahkamah Agung menolak kasasi, namun memperbaiki vonis oleh PN Pangkalpinang selama 2 tahun.

Setelah hasil kasasi tersebut keluar, Jaksa selanjutnya melakukan eksekusi terhadap terpidana. Jaksa juga telah melaksanakan putusan sesuai P 48 terhadap terpidana Mohammad Fajar Fitra. Caranya dipanggil secara patut selama tiga kali berturut- turut pada 9 Januari, 19 Februari, dan terakhir 19 Maret 2020 lalu.

Namun terpidana tidak memenuhi panggilan dan menghilang atau kabur. Sehingga kejaksaan memasukkan terpidana ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) tanggal 30 Maret 2020.

“Sebelumnya terpidana keluar demi hukum dari Lapas Kelas IIA Pangkalpinang dengan Berita Acara Pengeluaran Tahanan Nomor: W.7.PAS.PAS1.PK.01.01.01-635 pada 23 Mei 2018 sebelum hasil kasasi keluar,” sebut MT Robby Anggoro.

Ia menambahkan, saat ini terpidana sudah dibawa ke Lapas II A Pangkalpinang untuk dilakukan penahanan sesuai prosedur. (dit)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed