oleh

Anakku Tidak Perlu Tahu Siapa Ayahnya | Part III

…………..

Akhirnya hari yang sudah aku nantikan tiba, putraku dengan selamat dan sehat, beratnya 3,6 kilogram. Tangisan pertamanya tidak akan ku lupakan. Saat itu, tidak ada sedetik pun aku terpikir akan Jufri, “Masa bodoh dengan laki-laki seperti itu. Yang penting anakku selamat,” kataku dalam hati.

judul gambar

Setelah proses persalinan selesai, aku kembali dipusingkan dengan biaya persalinan yang tak sedikit. Namun beruntung, ada salah satu temanku yang meminjami uang untuk melunasi biaya persalinan. Dan baiknya temanku ini, dia tidak meminta aku mengganti dengan terburu-buru.

Saat anakku yang ku beri nama Galang berusia 14 hari, tiba-tiba Jufri datang. Dengan wajah dan suara tak berdosa, ia mengetuk pintu rumah kakakku. “Dek, dek. Anak kita sudah lahir ya,” tanyanya sambil mengetuk pintu. “Untuk apa lagi Belis (Setan) itu datang ke sini,” sahutku kepada kakak ku. “Tolong kakak yang buka, sebut aku tidak di rumah ini,” kataku kepada kakakku.

Kakakku lalu bergegas membukakan pintu, namun ia memberi tahu bahwa aku memang ada di rumahnya dan tidak ingin bertemu dengan Jufri. “Ya Juf, ia disini. Tapi saat ini Putri tidak ingin menemuimu,” terang kakak ku kepada lelaki bejat itu yang dibalasnya dengan permohonan lagi “Tolong kak, aku ingin melihat anakku,”.

Mendengar hal itu, aku langsung keluar dan mengatakan “Sana mabuk-mabukan lagi, jangan sok perduli dengan aku dan anakku. Kemana kamu selama ini? Dan jangan pernah berharap Galang akan memanggilmu dengan sebutan ayah,” kataku tak sengaja menyebut nama anakku.

Ya memang, bagaimana pun anakku merupakan anak yang terlahir karena hubungan terlarang dengan Jufri, tapi disisi lain amarahku menutupi itu semuanya. Dan singkat cerita, aku kembali menjadi manusia bodoh karena lagi-lagi menerimanya untuk kembali ke keluarga kami ini.

Aku berpikir dengan kelahiran anak kami ini diharapkan bisa membuat keluarga kecil ini akan Bahagia, asalkan dia bisa berubah. Hal itulah yang ada di pikiranku ketika mendapatkan bujukan mautnya. Aku memutuskan untuk menerima Jufri.

Namun baru saja beberapa hari kami mencoba membangun rumah tangga yang utuh meski belum menikah, kenyataan pahit datang kembali dan tidak seindah yang aku harapkan. Aku mencoba membaca pesan WhatsApp di handphone milik Jupri, dan aku dikejutkan dengan sebuah pesan yang membuatku bagai tersambar petir.

“Kapan kamu mampir ke sini lagi sayang. Aku kangen” begitu tulisan pesan tersebut. Dan melihat pesan tersebut, aku mencoba menanyakan apa maksud dari pesan WhatsApp itu kepada Jufri hingga terjadilah pertengkaran hebat.

Sampai-sampai dia mengakui bahwa wanita yang memiliki tatto di foto profil WhatsApp itu adalah pacar barunya. “Aku mengira kamu akan benar-benar berubah saat melihat darah dagingmu ini. Tapi dugaanku salah besar, ternyata kamu tidak berubah sedikitpun,” teriakku kepada Jufri. “Dan tolong!! Tinggalkan aku bersama Galang, dan sana pergi dengan wanita seksi bertatto itu,” kataku sembari menangis.

Walau awalnya aku tidak bisa terima kenyataan ini, tapi alhamdulillah aku sekarang sangat bersyukur dan mengambil hikmah dari semua yang ku alami ini, aku ikhlas, karena aku menyadari bahwa jodoh itu cerminan diri kita sendiri. Dimana orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik, begitu juga sebaliknya.

Mulai dari sekarang aku hanya akan memikirkan bagaimana Galang bisa tumbuh besar dan mendapatkan pendidikan tinggi tanpa harus mengenal ayahnya. Semoga cerita aku ini tidak pernah dialami wanita lain di luar sana, cukup aku saja yang merasakan kebodohan ini.

–TAMAT–

Baca: Anakku Tidak Perlu Tahu Siapa Ayahnya | Part II

Baca: Anakku Tidak Perlu Tahu Siapa Ayahnya | Part I

judul gambar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.