oleh

Anakku Tidak Perlu Tahu Siapa Ayahnya | Part II

. . .
Setelah puas melampiaskan amarah, aku pun langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka berdua. Namun, baru saja duduk di atas jok sepeda motor, Jufri yang ternyata mengikutiku ini, ikut serta naik ke atas motor yang sudah siap aku jalankan. Dia memaksa untuk ikut bersama denganku, dia kembali merayuku dan berusaha untuk menjelaskan semuanya kepadaku.

Bodohnya diriku, Jufri aku izinkan untuk ikut pulang bersamaku. Aku memberinya tumpangan agar ia nanti bisa menjelaskan semuanya. Ya mungkin hal ini kulakukan karena aku terlalu mencintainya, serta adanya rasa takut kalau nanti anak yang ada di dalam kandunganku ini, akan lahir tanpa seorang ayah.

Setibanya di rumah kontrakan, Jufri berbicara dengan mimik wajah serius, ia menjelaskan semuanya, seakan-akan berusaha meyakinkan diriku yang sedang kesal dan emosi terhadap dirinya. Laki-laki yang aku cintai ini mengatakan dengan sunguh-sungguh, jika ia dan wanita yang ada di rumah makan tersebut tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan untuk kesekian kalinya, seperti dihipnotis aku kembali percaya kepadanya.

judul gambar

“Sudahlah dek, kali ini adek harus percaya kepada abang. Wanita itu bukan siapa-siapa abang, dia hanya teman kantor yang hari ini ngajak abang makan siang di situ. Abang serius, abang tidak mungkin berkhianat kepada adek, apalagi saat ini adek sedang hamil,” sebut Jufri kala itu yang berusaha menenangkan aku.

“Cukup bang, kalau abang memang serius, apa abang sanggup dan bisa menikahiku secara sah. Aku tidak minta untuk memakai hajatan yang mewah. Abang cukup nikahi aku dibawah tangan, di penghulu aja. Nikah sirih juga tidak masalah. Apa abang berani ?,” syaratku kepadanya waktu itu.

Mungkin karena Jufri tidak ingin aku berlarut-larut dalam emosi, ia pun menyetujui syarat yang aku ajukan tersebut, dan ia mengatakan bahwa dirinya tengah mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan, seperti maskawin dan membayar penghulu.

“Tunggu sebentar lagi dek, abang sedang mengumpulkan uang. Kali ini abang serius, jika uangnya sudah terkumpul, kita segera menikah. Nanti kita temui ibumu untuk membicarakan pernikahan kita,” sebut Jufri yang langsung kujawab “oke”.

Hari-hari pun berlalu, sampailah usia kandunganku masuk bulan kedelapan. Dan ternyata tanda-tanda dari Jufri yang ingin menemui orang tuaku, untuk segera menikahiku sesuai dengan janji yang diucapkannya itu, tidak ada sama sekali.

Jufri malahan terlihat asik dengan kawan-kawan kantornya, mereka sering bermabuk-mabukan. Lagaknya seperti orang yang sok kaya, setiap malam mereka pergi ke cafe remang-remang dan selalu berpindah-pindah tempat untuk mengelabui kami para wanita-wanita mereka.

Mungkin juga mereka sadar, kalau terlalu sering berada di cafe remang-remang yang sama, takutnya aku akan menyusul untuk melabrak mereka. Karena sebelumnya, mereka sudah pernah aku labrak di sebuah café remang-remang, tempat mereka biasa nongkrong. Kala itu, aku datangi mereka yang tengah asyik minum-minum, aku mengamuk sejadi-jadinya.

Namun saat ini, aku seakan tidak peduli lagi dengan aktivitas Jufri beserta teman-temannya itu. Apalagi diusia kandunganku yang saat ini sudah membesar, aku juga sibuk bekerja di sebuah warung kopi ternama di Belitung. Hal ini aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup diriku bersama Jufri di rumah kontrakan kami.

Aku mengambil inisiatif untuk bekerja, karena Jufri tidak pernah lagi memberiku uang. Ya, mungkin uangnya sudah habis digunakannya bersama para lacur di cafe remang-remang. Saat itu, aku sudah pasrah dengannya, aku hanya menunggu dan berharap dia segera menikahiku, agar nanti kelahiran anakku ini sah.

Ketika usia kandunganku sudah memasuki hitungan hari, aku semakin giat bekerja. Yang aku pikirkan saat itu, bekerja dan terus bekerja agar bisa mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Aku sudah malas memikirkan Jufri, apakah ia akan menikahiku atau tidak. Karena aku sudah lelah mengemis, namun ujung-ujungnya apa yang dikatakannya itu tidak pernah ditepati.

Melihat tingkahnya seperti itu, aku semakin semangat bekerja agar uang untuk biaya persalinanku nanti tercukupi. Aku tidak bisa mengharapkan Jufri, untuk membiayai persalinanku nantinya. Yang ada diotakku saat ini, bagaimana caranya agar aku mampu membiayai persalinanku. Biarlah jika nanti anakku harus lahir tanpa sosok seorang ayah.

Aku pun sudah memutuskan untuk menjauhi kehidupan Jufri, aku tidak lagi tinggal bersama dengannya di rumah kontrakan. Saat itu walaupun dengan berat hati, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah kakak kandungku. Awalnya ada rasa malu dan takut untuk tinggal bersama kakak kandungku ini. Karena jika pulang ke rumahnya dengan kondisi perut yang besar, tentunya akan ada rasa kecewa pada dirinya.

Tapi karena tekadku sudah bulat, aku pun memberanikan diri untuk pulang ke rumah kakak kandungku. Aku hanya berharap, kakak kandungku akan mengerti dan mau menerima semua kebodohanku di masa lalu. Ternyata apa yang aku takutkan saat itu sirna, justru kakakku dan juga suaminya malahan menyambutku dengan baik. Aduh bersyukurnya diriku yang memiliki seorang kakak yang baik hati.

“Kuat-kuat ya nak, kamu harus kuat dan tegar menghadapi kenyataan ini. Maafkan ibumu ini ya nak,” kataku menyemangati anak dalam kandunganku seraya menangis setiap malam sehabis pulang kerja.

Demi anak yang berada dalam kandunganku ini, aku tetap bekerja walaupun usia kandunganku sudah semakin mendekati masa persalinan. Namun aku tidak pernah abai untuk memeriksakan kandunganku untuk mengecek dan memastikan kondisi calon bayiku ini agar baik-baik saja. Karena dibawa stress, aku sangat khawatir dengan calon anak yang akan segera lahir ini.  

Pada saat memeriksakan kandungan, aku sering berbohong kepada dokter jika ditanya tentang ayah calon anakku. Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Aku terpaksa berbohong kepada dokter yang memeriksa kandunganku ini, dengan mengatakan jika suamiku sedang sibuk bekerja.

Hingga tibalah waktunya aku harus melahirkan. Sebenarnya sesuai dengan hitungan dokter, diperkirakan jadwal aku melahirkan sekitar tanggal 2 Juni 2019. Namun baru saja tanggal 20 Mei 2019, perutku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Yang lebih membuat diriku terkejut yaitu, ternyata aku harus melahirkan dengan cara dioperasi caesar.

Dalam kondisi seperti itu, aku tidak sedikitpun memikirkan Jufri. Yang aku pikirkan saat itu bagaimana pun caranya, anak yang berada dalam kandunganku ini harus lahir dengan selamat. Meskipun dengan biaya yang tidak sedikit.

>>>>>>>>>>>>> Nantikan kelanjutan kisahnya pekan depan | part III

judul gambar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.