Ceng Beng Bukti Tanda Bakti kepada Para Leluhur

Beberapa warga keturunan Tionghoa mengunjungi makam leluhur saat Ceng Beng. (IST)

PERAYAAN Ceng Beng ataupun Chin Ming adalah hari sembahyang kubur (makam) dan ziarah tahunan pada makam orang tua ataupun leluhur, dengan upacara penghormatan sesuai kepercayaan tradisi orang Tionghoa.

Tokoh Tionghoa Kabupaten Bangka sekaligus Peziarah Makam di Kampung Hakok Fu Nam Tjen (73) mengatakan, Ceng Beng merupakan momentum untuk mengunjungi makam leluhur dan melakukan doa. Dimana perayaan Cheng Beng jatuh di setiap tahunnya pada bulan ke 3 awal bertepatan pada kalender Imlek.

“Perayaan Ceng Beng merupakan bagian pengingat ataupun mengenang orang-orang terkasih atau tercinta yang telah mendahului kita. Perayaan ini juga sekaligus mempererat hubungan bersama sanak keluarga bahwa di antara para orang mati, ada tradisi yang masih hidup,” kata Fu Nam Tjen, Minggu (4/4/2021) pagi.

Ceng Beng bertujuan untuk menghormati dan menunjukkan tanda bakti sanak keluarga kepada leluhurnya. Terutama dari anak kepada orang tua atau leluhurnya dengan membawa beberapa makanan kesukaan leluhur semasa hidup diletakkan di makam.

Sebelum hari perayaan Ceng Beng tiba, sanak keluarga telah membersihkan makam. Seperti membersihkan rumput sekitar makam, mengecat makam dan sebagainya. Setelah waktunya tiba, sanak keluarga mendatangi makam orang tua/leluhur tersebut sambil membawa makanan, buah-buahan, kue, hio/dupa, lilin warna merah, baju dan uang yang terbuat dari kertas.

Kemudian, sanak keluarga akan bersembahyang dan berdoa menggunakan hio di depan makam orang tua/leluhur. Dan dipercaya saat membakar hio tersebut, maka arwah orang tua/leluhur akan datang untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh sanak keluarganya.

“Selanjutnya bagi sanak keluarga yang telah sembahyang makam leluhur, mereka akan meletakkan kertas perak berwarna kuning di badan makam dan di atas nisan makam orang tuanya. Hal itu sebagai pertanda bahwa makam tersebut telah dibersihkan atau telah dikunjungi oleh keluarganya,” papar Fu Nam Tjen.

Fu Nam Tjen berharap perayaan Ceng Beng ini para arwah orang tua ataupun leluhur telah sampai di surga dan diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa. Serta bagi keluarga yang telah ditinggalkan dapat hidup rukun, damai, penuh rizki dan sehat selalu.

“Tanpa orang tua, kita tidak mungkin bisa ada di dunia. Untuk itu kita janganlah melupakan orang tua ataupun para leluhur. Dan sebisa mungkin luangkanlah waktu yang tidak begitu lama untuk memperingati Ceng Beng setahun sekali ini,’’ ujar Fu Nam Tjen. (kbc/azm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.